Selasa, 20 Juli 2010

Cilangkahan : Kemaslahatan Lebak Selatan ?







Potensi ‘emas’ Lebak Selatan memang pernah menjadi salah satu jargon keterbelakangan saat perjuangan pembentukan Provinsi Banten dulu. Sampai dengan pergantian Gubenur Banten 2006, wilayah yang semasa bergabung dengan Jawa Barat bakal dimekarkan menjadi wilayah Kabupaten dengan pusat Pemerintahan di Kecamatan Malingping, nyaris berjalan dalam kondisi yang tak jauh berbeda.

Perubahan memang ada, namun belum pula maksimal. Infrastruktur wilayah hingga akses informasi masih menjadi sesuatu yang mahal. Sebut saja jaringan jalan. Tidak kabupaten Lebak tidak pula Provinsi Banten, nampak masih berkutat pada penguatan infrastruktur di pusat pemerintahan. Perbaikan Alun-alun Rangkasbitung dan alun-alun Serang, menjadi bukti, pembangunan akses jalan di wilayah yang kini sedang digadang-gadang bakal menjadi ‘Kabupaten Cilangkahan’, belum dianggap sesuatu yang penting. Pengambil kebijakan masih juga asyik dengan kepentingannya masing-masing.

Bukanlah sebuah keanehan, manakala seluruh komponen masyarakat yang kritis di wilayah eks kewedanaan Cilangkahan, Parungkujang dan Madur ini menggugat. Terlepas dari kepentingan politik masing-masing, Kabupaten Cilangkahan, menurut Ketua Badan Koordinasi Pembentukan Kabupaten Cilangkahan (BKPKC) Hifni Nawawi, adalah untuk kepentingan dan keberdayaan masyarakat selatan sendiri.

Dalam penuturan Hifni Nawawi, kepada sejumlah wartawan seusai acara pengukuhan kepengurusan Bakor Pembentukan Kabupaten Cilangkahan, di Pasuaran, Labuan Pandeglang, Kabupaten Cilangkahan merupakan sebuah solusi mengejar ketertinggalan warga Lebak Selatan, utamanya dalam mendekatkan jenjang pelayanan birokrasi dan percepatan pembangunan wilayah Banten.

“Kabupaten Cilangkahan ini, bukan kepentingan segelintir elit melainkan mandate dari warga Banten yang ada di Lebak Selatan. Pembentukan Bakor yang bakala mengantarkan Kabupaten Cilangkahan ini, perwujudan dari mandat warga yang ada di 10 kecamatan di Lebak Selatan,” ujarnya.

Sementara itu menurut Dewan Pakar Bakor PKC Didi Supriyadie, pembentukan Kabupaten Cilangkahan bukan lagi dalam posisi tawar-menawar, melainkan sudah pada kebutuhan untuk kemajuan wilayah selatan sendiri. “Bukti itu semakin nyata, dengan meleburnya berbagai komponen yang dulu telah mengusung Kabupaten Malingping, Kabupaten Banten Selatan dan Kabupaten Lebak Selatan,” tegas mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, saat pengukuhan kepengurusan Bakor PKC di Pasauran, Labuan, Pandeglang.

Demikian pula pandangan H Ade Sudirman, salah seorang tokoh Banten yang hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa dalam melaksanakan pembangunan harus berdasar pada hati nurani. Demikian halnya dengan keinginan warga di ‘Kabupaten Caringin’, ‘Kabupaten Cibaliung dan Kabupaten Cilangkahan, dari nurani mereka pula, keinginan itu terwujud.

Sementara itu menurut Ketua Paguyuban Masyarakat Lebak Kidul (PMLK), Wijaya Ganda Sungkawa, banyak manfaat yang bakal dirasakan warga Lebak Selatan bila Kabupaten Cilangkahan terwujud, salah satunya pembangunan akses jalan kabupaten yang bakal membuka keterisoliran wilayah. Selama ini, masih banyak wilayah di Lebak Selatan yang mempunyai potensi ekonomi namun terkendala oleh akses jalan. Kondisi ini bisa dipecahkan manakala Cilangkahan benar-benar terwujud menjadi kabupaten yang mandiri.

“Kita tahu, di wilayah Lebak Selatan masih banyak yang terisolir. Kondisi itu saya yakin akan berubah manakala jenjang pelayanan pemerintah semakin pendek,” ujar alumnus IKIP Bandung yang juga tercatat sebagai pengajar di STKIP Rangkasbitung.

Ragam Potensi
Beberapa sumber yang berhasil dihubungi Banten Ekspose menyatakan bahwa secara potensi ekonomi, wilayah bakal Kabupaten Cilangkahan sudah layak untuk segera dimekarkan. Hektaran bahan galian mineral, kehutanan, perkebunan dan hamparan potensi wisata pantai terbentang dari kawasan Binuangeun hingga perbatasan Pelabuhanratu, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Dalam sektor pertambangan misalnya, Kabupaten Cilangkahan kaya akan potensi sumber alam. Sebut saja, pasir kuarsa, bentonit, batubara, emas, kaolin, Gips, Marmer, batu kapur, zeolit, kalsit, cadas putih, batu apung, pasir dan bahan galian lainnya.

Dalam sektor perkebunan, ribuan hektar areal perkebunan dan kehutanan merangkai dari wilayah Malingping hingga Cibeber dan Cilograng, dibawah pengelolaan Perum Perhutani BKPH Bayah dan Malingping. Kita bisa saksikan rimbunnya perkebunan sawit di Kecamatan Banjarsari dan Panggarangan.

Sektor kehutanan dalam lingkup BKPH Malingping tercatat, Hutan lindung seluas 3.826,05 ha dan hutan produksi seluas 16,596,90 ha. Sedang dalam lingkup BKPH Bayah Hutan Lindung tercatat seluas 13.336,30 ha dan hutan produksi seluas 38.476,90 ha. Total luas hutan dalam lingkup kedua BKHP tersebut mencapai 55,639,25 ha.

Potensi lain yang bisa dikembangkan bakal Kabupaten Cilangkahan adalah sektor kelautan dan pariwisata. Tercatat panjang pantai yang terbentang dari Binuangeun hingga kawasan wisata Sawarna tidak kurang dari 75 kilometer. Sektor perikanan laut, yang ada di wilayah ini cukup potensial. Jenis ikan yang bisa didapat dari wilayah ini pelagic, demersal, cakalang, udang dan tuna.

Potensi udang pernah menjadi primadona wilayah ini, baik melalui pola pembibitan udang jenis windu (hatchery) maupun udang karang (lobster). Data yang diperoleh Banten Ekspose, di Desa Pondok Panjang Kecamatan Panggarangan (Cihara) dan Sawarna Kecmatan Bayah, pernah mencatat produksi udang tidak kurang dari 500 kg/ha/musim dan banding sekitar 600 kg/ha/musim dengan lingkup pasar local dan regional.

Budidaya rumput laut juga pernah dilakukan di Desa Darma sari, Desa Citarate dan desa Sawarna Kecamatan Bayah dan Desa Binuangeun dengan lingkup pasar dalam nengeri dan eksport. Budidaya yang masih bisa dikembangkan di wilayah ini, dan bisa menghasilkan pendapatan daerah adalah budidaya kerang mutiara, budidaya kakap putih.

Hasrat Terpendam
Gerakan masyarakat Lebak Selatan untuk merdeka dari Kabupaten Induknya, Lebak dalam catatan Banten Ekspose, bukanlah barang baru. Usia pergerakan untuk menjadi kabupaten yang mandiri lebih tua dari umur Provinsi Banten sendiri. Saat itu, demi terwujudnya Provinsi Banten, seluruh warga Lebak Selatan sepakat menghentikan gerakan pembentukan Kabupaten.

Di Tahun 2000 misalnya, saat gaung Provinsi Banten mulai, kalangan Komite Pembentukan Kabupaten Malingping (KPKM) mendeklarasikan pembentukan Kabupaten Malingping. Saat itu, sempat timbul kecurigaan bahwa deklarasi tersebut di’otaki’ Nuriana Gubernur Jawa Barat, yang memang belum menginginkan Banten menjadi Provinsi.

Akibat gerakan dan gema pembentukan Provinsi Banten terus menguat, deklarasi yang disuarakan kalangan KPKM sirna dengan sendirinya. Sujaya Arsudin, Ketua KPKM saat dihubungi Banten Ekspose kala itu, lebih memilih diam dan mendukung gerakan pembentukan Provinsi Banten.

Setelah Banten menjadi Provinsi, tepatnya tahun 2002, komponen pemuda asal Lebak Selatan yang tergabung dalam wadah Forum Komunikasi Persatuan Pemuda Banten Selatan (FK-PPBS) kembali mendeklarasikan Kabupaten Banten Selatan. Namun deklarasi yang dimotori Cecep P Erawan Cs ini, juga tersendat dan diam seiring perjalanan waktu.

Letupan hasrat untuk mandiri dan mengurus daerah sendiri, bagi warga Lebak Selatan nampaknya bukan perkara tarik ulur. Kalangan tokoh pemuda dan masyarakat yang berasal dari wilayah Kecamatan Panggarangan, Bayah, Cibeber dan Cilograng, kembali menghimpun diri dan berbaur dalam wadah Paguyuban Masyarakat Lebak Kidul (PMLK), yang salah satu agendanya tidak lain pemekaran wilayah di Kabupaten Lebak.

Langkah komponen warga Lebak Selatan semakin menemukan titik terang, ketika Mulyadi Jayabaya terpilih. Secara serempak warga dari berbagai kecamatan di Lebak Selatan berkumpul di Hotel Pemata Cilegon. Saat itu, terjadi sebuah kesepakatan bersama untuk terus mengusung pembentukan Kabupaten di wilayah Lebak Selatan. Ini terjadi sekitar tahun 2004.

Rupanya hasil kesepakatan ‘Permata Cilegon’ juga tidak menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi perkembangan Lebak Selatan. Sampai akhirnya, beberapa waktu lalu, kalangan pemuda dan mahasiswa asal Lebak Selatan menghimpun diri dalam wadah Front Aksi Lebak Selatan (FALS), dan menyambangi wilayah pusat penghasil kebijakan di Lebak. Gerakan FALS ini ternyata berhasil menyadarkan kalangan sesepuh dan sejumlah tokoh Lebak Selatan.

Keberhasilan penyadaran yang dilakukan kalangan FALS itu berbuah pertemuan para sesepuh dan tokoh masyarakat di Bungkeureuk Kecamatan Bayah, dengan terbentuknya badan koordinasi Pembentukan Kabupaten Cilangkahan. Lebih tegas lagi, beberapa pekan lalu sempurna sudah kepengurusan Bakor PKC hingga tingkat kecamatan dan desa.

Jelas sudah, deklarasi dari 2000 hingga 2006 bukan lagi sekedar mimpi, Cilangkahan menjadi pilihan akhir. Tidak lagi Malingping, tidak pula Lebak Selatan atau Banten Selatan. Hanya saja, Cilangkahan harus berwujud pada peningkatan dan pemerataan kesempatan perbaikan nasib rakyat bukan pada kepentingan sesaat kalangan elit. (S.Age)


Sumber :
BERITA TABLOID BANTEN EKSPOSE. Edisi 24/2006
http://tabloidbantenekspose.blogspot.com/


Sumber Gambar:
http://www.bpkp.go.id/unit/DKI%20II/peta_banten.gif
http://www.deptan.go.id/daerah_new/distanak_banten/PETA%20KAWASAN/horti%20lebak.jpg
http://sandythea.wordpress.com/2008/09/21/bayah-kiwari-2/
http://deahmed.blogspot.com/2010/01/cagar-alam-bayah.html
http://adhikusumaputra.multiply.com/journal?=&page_start=61
http://alexzhu.blogdetik.com/2009/04/28/peti-penambangan-emas-tanpa-izin-cikotok-kembali-menelan-korban/

Peta Cilangkahan


View Larger Map

Senin, 19 Juli 2010

Malingping, Daerah Wisata Tak Tersentuh…


Malingping merupakan sebuah kecamatan yang termasuk di dalam kabupaten Lebak provinsi Banten. Dari Jakarta untuk menuju daerah malingping dapat dilalui dari 2 jalur utama jalan, pertama lewat serang dan kedua lewat pelabuhan ratu.

Jalan yang harus dilalui ke malingping memang sangat berliku, kalau melewati daerah serang secara umum jalanan yang dilalui kelak-kelok tanpa ada tanjakan yang curam, tetapi kalau melewati pelabuhan ratu maka jalan yang dilalui melewati tanjakan dan kelokan yang curam dan berbahaya.

Kalau melihat potensi malingping dengan pantai selatan jawa yang membentang panjang dan sangat eksotik, daerah ini sangat layak sekali untuk dikembangkan sebagai daerah wisata yang dapat menyerap sumber daya manusia dan juga menjadikan daerah ini menjadi lebih dikenal di negara ini.

Hal ini memang berbeda sekali dengan daerah lain di wilayah provinsi banten yakni pantai carita, tanjung lesung dan pulau umang yang sudah mem-Indonesia yang ada di wilayah kabupaten pandeglang.

Pada realitanya di sepanjang pantai malingping mulai dari daerah binuangeun sampai dengan bayah mulai dibangun villa-villa kecil, namun eksistensi dari villa tersebut masih kurang. Apa yang salah?

Pada kesempatan ini saya sebagai warga negara indonesia yang lahir dimalingping dan sekarang tinggal di jakarta mengundang kompasianer untuk mengunjungi wisata pantai di malingping. Wisata pantai yang ada di malingping dan sekitarnya adalah :

1. Pantai Bageudur

2. Pantai Karang Taraje

3. Pantai Karang song-song

4. Pulau Manuk

5. Pulau Tinjel

6. Pasir putih

7. dll (maaf, kelamaan di jakarta bapak-bapak)

Dari keenam daerah yang masih eksis dan suka dikungi oleh para wisatawan adalah pantai baegur, pasir putih dan pulau manuk.

Kepada bapak-bapak kompasianer saya harap sekali lagi untuk datang dan mengunjungi daera wisata di malingping dan sekitarnya, namun fasilitas yang tersedia memang belum selengkap dibandingkan daerah wisata lainnya misalkan pantai carita, pulau umang dan tanjung lesung. misalkan di malingping belum ada ATM karena di daerah ini cuma ada 2 kantor cabang pembantu yakni bank BRI dan bang Jabar.

Namun dibalik semua kekurangan semua itu bahwa ada nilai lain yang ada di malingping itu dan itu cuma bisa dirasakan oleh bapak-bapak ketika mengunjungi wilayah malingping…


Sumber :
Thomas Budiarto
http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2009/11/08/malingping-daerah-wisata-tak-tersentuh/


Sumber Gambar:

http://acanmaung.blogspot.com/2010_07_01_archive.html
8 November 2009

Pemburu Telur Semut Dongkrak Ekonomi Warga Lebak (Bayah, Wanasalam, Cihara dan Malingping).

Pemburu telur semut merah atau kroto untuk makanan burung berkicau dan umpan memancing ikan, ternyata dapat mendongkrak ekonomi warga Kabupaten Lebak bagian selatan, meliputi Kecamatan Bayah, Wanasalam, Cihara dan Malingping.

"Saat ini harga telur semut merah atau `rarangge`, dibeli oleh pedagang pengumpul seharga Rp50.000 per kilogram, sehingga cukup menguntungkan," kata Udin (45), warga Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Banten.

Udin mengatakan, dirinya setiap hari bersama teman sekampung pergi ke hutan memburu telur semut yang umumnya bersarang di daun-daun pepohonan yang tinggi.

Pohon yang kerap "dihuni" untuk dijadikan darang bagi "rarangge" itu, umumnya yang menjulang cukup tinggi seperti pohon lame, petai, nangka dan mahoni.

Untuk memastikan telur semut ada, kata dia, dirinya melihat langsung ke atas pohon dengan cara memanjat.

Apabila ditemukan gerombolan semut dengan sarang yang bersisi, kata dia, langsung diulurkan alat penangkap berupa bambu sepanjang 15 meter yang bagian ujungnya terdapat jala dari bahan kain.

"Setiap kali melakukan pemburuan, saya bisa mendapatkan 2,5 kilogram telur semut, dan jika dijual laku seharga Rp125 ribu," katanya.

Dia mengaku telah menjadi pemburu telur semut merah sejak sepuluh tahun silam. Hasilnya, kini sudah bisa membangun rumah, membeli sepeda motor dan menyekolahkan anak-anak.

Pemburuan semut merah tentu tidak begitu mudah karena harus berani menanggung risiko, sebab jika terkena gigitan akan merasa perih dan gatal-gatal.

Karena itu, Udin mengatakan perlu sikap kehati-hatian saat melakukan pemburuan semut "rarangge".

Meskipun terasa sakit akibat gigitan semut itu, tetapi belum pernah terdengan ada pemburu yang sampai meninggal dunia setelah memburu semut merah.

"Ekonomi saya sangat terbantu dengan memburu kroto untuk pakan burung dan umpan bagi para penangkap ikan itu," katanya.

Begitu pula Sarif (40), seorang pemburu warga Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, menjelaskan bahwa dirinya setiap sore menjual hasil buruan telur semut ke pedagang pengumpul yang ada di sekitar Kecamatan Malingping.

"Saya menjual paling sedikit seberat dua kilogram dengan harga Rp100 ribu," katanya.

Sarif mengaku setiap hari berjalan kaki hingga puluhan kilometer ke pelosok-pelosok desa untuk mencari telur semut itu.

Bahkan, kata dia, masyarakat juga merasa terbantu jika pohon miliknya yang dihinggapi semut merah, dapat dibersihkan oleh para pemburu.

Menurut dia, pencarian kroto dapat menciptakan lapangan pekerjaan masyarakat, dan saat ini jumlah pemburu mencapai ratusan orang dengan minimal rata-rata pendapatan Rp50.000.

"Kami merasa beruntung sejak terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di pabrik sepatu Tangerang, kini pulang kampung bekerja sebagai pemburu kroto," katanya.

Sementara itu, H Dudung (60), warga Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, mengatakan dirinya setiap hari menampung telur semut yang kebanyakan dari para pemburu asal Banten Selatan dan Kabupaten Pandeglang.

Telur semut tersebut selanjutnya disalurkan kepada bandarnya yang ada di daerah Tangerang dan Jakarta.

"Setiap sore kami menampung telur milik ratusan pemburu. Jumlah yang mereka jual tidak jarang mencapai satu sampai dua kwintal," Dudung.

Dudung menjelaskan bahwa dirinya telah 17 tahun bertindak sebagai penampung kroto, dan ini sangat membantu ekonomi masyarakat. Terbukti, banyak pencari kroto yang kehidupan ekonominya terus membaik.

"Itu bisa dibuktikan jika mereka datang ke sini selalu menggunakan sepeda motor. Bahkan ada anak-anak bisa kuliah di perguruan tinggi karena memburu kroto," katanya.

Dia menambahkan, selama menampung telur semut merah mampu membiayai dua anaknya hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi di Jakarta. Selain itu juga telah umrah ke tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.

(fb/FB/ant)


Sumber :
http://vibizconsulting.com/column/index/regional/19883/berita_jawa
28 Maret 2010

Kecamatan Cilograng Semakin Maju

Meski berusia muda, Kecamatan Cilograng mampu mengembangkan diri menjadi salah satu kecamatan dengan pembangunan yang sangat pesat. Letaknya berada di pelosok Kabupaten Lebak dan berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi - Jawa Barat, tak menghambat pembangunan Infrastruktur dan irigasi yang berjalan sangat pesat, bahkan bila dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang lain.

Salah satu bukti kemajuan pembangunan di Kecamatan Cilograng adalah kesuksesan mereka menyelenggarakan lomba MTQ tingkat Kabupaten Lebak ke-29 pada awal 2008 lalu. Kemajuan Kecamatan cilograng dalam segi pembangunan dan menyelenggarakan segala acara tidak luput dari seringnya pihak kecamatan bersosialisasi dan terjun langsung kepada masyarakat dan mengajak mereka untuk ikut memajukan kecamatan.

Camat Cilograng, Mamat Permana, menyatakan, kemajuan yang diraih wilayahnya bukanlah sesuatu yang dicapai dengan mudah. Tanpa dukungan masyarakat dan kebersamaan antar seluruh elemen di kecamatan itu, rasanya kemajuan tidak mungkin tercapai dalam tempo yang sesingkat itu. Namun, berkat kerja keras dan kerjasama semua pihak, kini Kecamatan Cilograng mengalami kemajuan dalam pembangunan infrastruktur dan irigasi.

Mamat juuga menjelaskan, saat ini hampir semua jalan desa di seluruh wilayah Cilograng sudah hampir hitam dihotmix, bukan itu saja penerang (PJU) di setiap jalan sudah ada. “Kalau tidak didukung oleh masyarakat dan bila kita tidak sering turun bercengkerama dengan masyarakat, mana mungkin kecamatan akan maju. Apalagi kecamatan Cilograng berbatasan dengan kabuapaten lain. Jadi jangan sampai kita dibilang tertinggal,” ujar Mamat

Mamat juga menyatakan, jarak antara Kecamatan Cilogram dan Ibukota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung yang cukup jauh, bukan menjadi penghalang untuk merubah wilayah itu menjadi daerah yang lebih baik demi kesejahteraan masyarakatnya. Untuk itu, ia tetap berharap Pemkab Lebak untuk tetap meningkatkan perhatiannya pada Kecamatan Cilograng.

Kecamatan Cilograng ditetapkan sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Lebak pada tahun 2004. Sebelumnya wilayah ini merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Bayah. Kecamatan Cilograng terdiri dari 10 desa terdiri dari Desa Lebak Tipar, Gunung Batu, Cilograng, Cibabarenang, Cikatomas, Cijengkol, Pasir Bungur, Cirende, Girimukti dan Cikamunding. Kecamatan Cilograng memiliki luas tanah 1027 hektare dan 31,829 jiwa penduduk. (VER)


Sumber :
http://www.koranbanten.com/2008/12/13/mamat-permana-ssos-kecamatan-cilograng-semakin-maju/
13 Desember 2008

Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Lebak

Sawarna merupakan salah satu desa di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Panorama keindahan alam desa ini cukup menawan. Objek wisata di desa ini sering dikunjungi oleh para wisatawan dari mancanegara.

Keindahan Pantai Tanjung Layar, Pasir Putih dan pantai lainnya yang menjadikan Desa Sawarna mendapat sebutan sebagai Desa Wisata. Untuk berkunjumg ke desa ini bisa ditempuh dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ke arah Malimping, Bayah sampai Pantai Pulomanuk yang jaraknya kurang lebih 126 Km.

Jalan raya menuju tempat wisata ini sudah memadai, beraspal hotmix mulus. Keindahan semakin terasa seiring dengan sajian pemandangan alam pantai di sepanjang jalan mulai dari Malimping hingga Sawarna.

Potensi wisata alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata dan daya tarik wisata di Desa Sawarna terbagi dalam dua bagian, pertama yaitu obyek wisata pantai yang terdiri dari Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, dan Pantai Karang Seupang. Objek wisata alam lainnya adalah gua yang juga banyak terdapat di sana.

Kepala Desa Sawarna, Asep Moch.Erwin, mengaku dirinya sudah sering mempromosikan dan mengajukan potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di desa. Promosi ini dilakukan secara formal pemerintahan seperti diaolog dengan pihak Dinas Pariwisata yang juga sudah memantau desanya. Promosi yang tidak formal seperti lewat media massa.

“Itu semua dilakukan, agar potensi SDA di Desa Sawarna ini secepatnya diperhatikan dengan baik oleh pemerintah sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan membantu memperdayakan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Namun sejauh ini pengajuan tinggal pengajuan. Belum ada realisasi dari pihak pemerintah Lebak untuk pengelolaan potensi ini. “Insya Allah jika SDA ini sudah dapat pengelolaan yang baik, khusunya oleh pihak Pemkab Lebak, perekonomian masyarakat Desa Sawarna akan meningkat,” ungkap Erwin.

Potensi Pariwisata
Potensi wisata alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata dan daya tarik wisata di Desa Sawarna adalah objek wisata pantai di antaranya:
Pantai Pasir Putih Ciantir
Pantai Tanjung Layar
Panatai Karang Bokor
Pantai Karang Taraje
Pantai Teluk Legon Pari
Pantai Karang Seupang.

Objek wisata Pantai Pasir Putih Ciantir dan Tanjung Layar merupakan primadona wisata Desa Sawarna dengan pasir putih yang menghampar sepanjang 3 Km. Aneka ikan hias dan terumbu karang serta ombak yang besar sangat cocok untuk olahraga selancar air atau surfing. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke tempat ini.

Selain obyek wisata Pantai, terdapat juga objek wisata yaitu objek wisata alam seperti goa yang meliputi:
Gua Lalay
Gua Sikadir
Gua Cimaul
Gua Singalong
Bukit Pasir Tangkil

Di antara gua yang terdapat di Sawarna, Gua Lalay yang paling terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Beberapa gua ini memiliki historis yang menarik, selain gua, ada lagi objek wisata seperti Tapak Sikabayan dan makam orang Belanda yang bernama Jean Louis Van Gought yang konon katanya orang pertama yang membuka lahan di Sawarna dengan membuka lahan perkebunan kelapa yang sudah menjadi program pemerintahan Hindia - Belanda pada tahun 1907.

Kerajinan Tangan
Kerajinan di Kabupaten Lebak memiliki peran yang besar, khusunya di daerah Banten selatan seperti di Desa Sawarna. Peran industri kerajinan sangat dirasakan dalam tata kehidupan masyarakat lantaran sebarannya yang hampir merata di seluruh wilayah. Lebih dari itu, sekitar 60 persen dari total ekspor kerajinan di Jogjkarta diproduksi oleh pengrajin Banten Selatan.

Keunikan pengrajin di Desa Sawarna Kabupaten Lebak ini adalah keahlian yang diperoleh secara turun temurun. Setiap dusun biasanya memiliki keahlian memproduksi karya kerajinan yang sejenis. Dengan banyaknya warga yang bergelut di kerajinan yang sejenis, dalam perkembangannya desa tersebut menjadi pusat atau sentra suatu produk kerajinan. Para buyer dan pecinta karya seni tradisional selain bisa memilih berbagai alternatif produk dari perajin yang berbeda sekaligus berwisata menikmati alam atau keunikan desa setempat dan juga bisa melihat proses pembuatan sebuah karya kerajinan.

Hasil kerajinan tangan masyarakat Desa Sawarna bahan mentahnya adalah kayu, apalagi bahan mentah ini didukung oleh banyaknya hutan belantara yang masih natural dan banyak menghasilkan kayu berkualitas. Sehingga menunjang terciptanya suatu nilai seni yang baik. Gitar, adalah salah satu kerajinan masyarakat yang banyak diminati oleh para touris mancanegara dan memilki aset jual paling banyak, sampai sekarang pun gitar produk asli Sawarna ini masih ada dan bisa di pesan dengan harga yang relatif murah.

Pertanian, Peternakan, Dan Perikanan
Luas lahan di Desa sawarna yang digunakan untuk kegiatan produksi pertanian (sawah, tegal, dan kebun campur) meliputi hampir 400 juta meter persegi atau mencakup sekitar 79 persen dari seluruh wilayah Kabupaten ini. Potensi persawahan berjumlah sekitar 16.500 Ha, terdiri dari irigasi teknis sekuas 1.200 Ha lebih, irigasi setengah teknis sekitar 12.500 Ha, irigasi sederhana lebih dari 580 Ha, irigasi desa/non PU seluas 2.100 Ha lebih.

Komoditas pertanian yang dominan di Sawarna adalah tanaman pangan dan holtikultura, dengan produksi petahun padi mencapai sekitar 157 ribu ton, jagung sebanyak 23 ribu ton, ubi kayu sejumlah 30 ribu ton, kedelai sebanyak 8 ribu ton, bawang merah sejumlah 167 ribu ton, cabai sekitar 72 ribu ton. Sedangkan hasil buah-buahan meliputi: mangga sebanyak 41 ribu kuintal setahun dan pisang juga sekitar 21 ribu kuintal. (Beni)


Sumber :
http://www.koranbanten.com/2008/03/22/desa-sawarna-kecamatan-bayah-lebak/
22 Maret 2008

Surga Di Sawarna



Desa Sawarna, tak banyak orang yang mengenal desa wisata ini namun bagi para pencinta travelling lokasi ini merupakan salah satu objek wisata yang diminati dan menjadi satu dari daftar kunjungan. Lokasinya berada di Kabupaten Lebak-Banten Selatan, tepatnya di Kecamatan Bayah yang juga berbatasan langsung dengan Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat. Dilihat dari sisi potensi wisata, desa ini menyimpan keindahan alam yang cukup mempesona. Selain hamparan sawah yang hijau dan kehidupan masyarakat yang agraris kita akan menemukan banyak keelokkan wisata gua dan wisata pantai. Di namakan Sawarna asal kata dari “Suarna” yang artinya emas, karena dulunya desa ini pada jaman penjajahan jepang sempat dijadikan lokasi penambangan emas. Ada juga sumber lain yang mengatakan asal nama Desa Sawarna yang berarti satu warna, diambil dari nama seorang petualang bernama Kiai Sawarna yang menemukan desa ini.

Menuju desa wisata Sawarna membutuhkan waktu sekitar 7 jam perjalanan dari Jakarta. Mencapainya kita bisa menggunakan dua jalur alternatif melalui Tanggerang atau melalui jalur Sukabumi. Rute melalui Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna. Menempuh jalur ini anda harus sedikit bersabar dan berhati-hati karena jalan yang dilalui kondisinya kurang baik, berlubang dan rusak tapi untuk dilewati kondisinya masih cukup layak. Kerusakannya terutama berpusat di daerah malimping. Untuk akses yang lebih nyaman kita bisa tempuh melalui rute Pelabuhan Ratu-Cisolok-Cibareno-Sawarna. Sebuah perjalanan yang memang terasa melelahkan, namun semuanya akan terbayar dengan alam yang menakjubkan ditambah dengan keramahan warga desa semuanya mampu mengobati rasa lelah selama perjalanan.

Pantai sawarna (Ciantir), Laguna Pari dan Pantai Tanjung Layar

Pantai-pantai ini mengelilingi desa Sawarna dan tercatat sebagai deretan pantai indah nan mempesona. Pantai Ciantir dan Laguna Pari terkenal dengan hamparan pasir putih yang menawan. Pantai ini sangat eksotis dan termasuk dalam garis pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang deras. Dari segi karakter ombak, pantai wisata ini memang memiliki ombak yang bergelombang, dan cukup besar sehingga sangat cocok jika dijadikan tempat bermain surfing. Bagi anda yang hoby dengan selancar, bulan April-September merupakan saat yang tepat, dimana anda bisa puas menikmati aktivitas surfing karena cuacanya yang memang lumayan baik. Mereka yang bertandang untuk bersurfing, kebanyakan terutama dari kaum ekspatriat. Bila musim berselancar tiba, kawasan pantai di penuhi oleh turis mancanegara.

Pantai Tanjung Layar, terkenal dengan dua batu besarnya, bongkahan karang ini merupakan sisa abrasi gelombang laut yang nampak menonjol seperti layar. Sehingga tempat ini dinamakan Tanjung Layar. Pantainya dikelilingi oleh gugus karang. Jika airnya sedang surut, kita beruntung bisa menyebrang menuju dua batu tersebut. Menaikinya atau sekedar berfoto dengan latar belakang diantara dua batu tanjung layar. Air lautnya sangat jernih, di celah-celah cekungan karang kita bisa melihat terumbu karang, rumput laut dan ikan-ikan kecil yang bergerombol. Lokasi Pantai Tanjung Layar ini dipenuhi dengan karang-karang dan juga hamparan karts seolah sebagai lantai dan teras rumah alami pantai tersebut. Panorama Tanjung Layar ini dikelilingi oleh karang laut yang berdiri tegak seperti pagar laut.

Menjelajah kegelapan Gua Lalay

Bagi para pecinta gua, lokasi ini jadi pilihan yang tepat. Gua lalay merupakan gua yang cukup populer. Gua lalay merupakan gua batu gamping (karst) yang memiliki stalagmit dan stalaktit yang indah menutupi dinding-dinding gua. Bagian dasarnya merupakan aliran sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan hampir 10 sampai 15 meter. Masuk ke dalam gua sedikit berhati-hatilah pastikan anda telah memakai helm pengaman untuk menghindari terbenturnya kepala dengan dinding gua dan gunakan alas kaki yang cukup kuat menopang kaki karena lumpur yang cukup tebal yang bisa menahan langkah anda. Gua ini dinamakan Gua Lalay dalam bahasa sunda “Lalay” artinya kelelawar, karena memang di langit-langit gua terdapat banyak kelelawar.

Pantai Pulau Manuk

Jika kita menelusuri pantai-pantai di sawarna kita tidak akan di kenakan tarif khusus alias gratis. namun di kawasan yang tak jauh dari sawarna dan masih berada di Kecamatan Bayah. Ada satu lagi objek yang cukup menarik Pantai Pulau Manuk, namun kita akan dikenakan Di kawasan ini kami membayar karcis masuk dan karcis parkir. Pantai ini merupakan pantai pasir putih bermaterialkan pasir kuarsa dan pecahan batuan gamping hasil abrasi gelombang laut. Dinamakan Pulau Manuk, yang berarti Pulau Burung dalam bahasa sunda. Jika kita perhatikan menjorok ke laut terdapat sebuah pulau karang dimana banyak burung bertengger dan beristirahat disana. Lokasi ini memang sudah sejak lama menjadi tempat persinggahan burung dari perjalanan antar benua. Berbagai burung singgah di tempat ini setiap bulan September-Oktober. Umumnya kebanyakan yang singgah adalah jenis burung laut, yang memang memiliki kemampuan terbang jarak jauh. Sedikit berjalan dari pantai Pulau Manuk ke arah timur kita akan menemukan kawasan hutan suaka alam yang penuh dengan kekayaan flora dan faunanya.

Pesona Keindahan

Pemandangan alam desa yang eksotik memang menjadi andalan yang ditawarkan kepada pengunjung, hamparan sawah di sekeliling desa yang menghijau, keberadaan gua lalay yang indah dan dipenuhi kelelawar, hutan lindung yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan dihuni kera ekor panjang, ataupun pantai Tanjung Layar yang mempunyai ombak besar dan pasir putih. di desa ini, kita juga bisa menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat desa Sawarna dengan tinggal bersama di rumah-rumah penduduk yang banyak diantaranya memang difungsikan sebagai homestay yang bernuansa alam. Potensi keindahan Sawarna sayangnya kurang di dukung oleh fasilitas yang memadai dan informasi yang minim terutama sulitnya transportasi dan rusaknya sarana jalan menuju Sawarna. Infrastruktur yang kurang mendukung memang tidaklah mengurangi keindahan yang ada di desa wisata ini namun ada baiknya jika Pemda setempat lebih memperhatikan dan mengelola kawasan ini dengan baik, Desa Wisata Suwarna tentu akan menjadi lebih indah.


Sumber:
http://passionmagz.com/surga-di-sawarna/2009/07/22
22 Juli 2009


Sumber Gambar:
http://biotagua.org/2007/04/27/hello-world/
http://www.tukangjalanjalan.com/gallery.php

Pantai Sawarna Bayah

TPI Binuangeun Wanasalam - Produksi Ikan Turun Separuh


Produksi ikan pada sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di Kabupaten Lebak, Banten, selama empat bulan terakhir ini turun sekitar 50 persen akibat terang bulan dan cuaca buruk yang melanda perairan Samudera Hindia.

"Akibat cuaca buruk itu pemasukan retribusi TPI Binuangen turun drastis," kata Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Hadi, saat dihubungi, Selasa (22/6/2010).

Hadi menjelaskan pendapatan retribusi tersebut turun akibat berbagai faktor, antara lain faktor cuaca buruk dan terang bulan malam hari. Saat ini memasuki terang bulan tampak nelayan sejak sore hingga malam banyak yang tidak melaut karena tangkapan ikan sepi.

Faktor lain, nelayan di daerah itu masih menggunakan kapal dengan jangkauan 3 mil dari pesisir pantai sehingga mereka tidak bisa mencari ikan ke tengah laut. Karena itu, pihaknya berharap Kementerian Kelautan dan Perikanan segera memberikan bantuan kapal yang bisa menjelajah di atas 3 mil. "Dengan kapal tangkapan ikan di bawah 3 mil tentu berdampak terhadap pendapatan nelayan," katanya.

Selama ini, kata dia, nelayan pesisir Kabupaten Lebak hanya cukup bertahan hidup karena tangkapan ikan makin berkurang. Bahkan, sekarang ini juga banyak nelayan menganggur karena biaya operasional dengan penghasilan tidak sebanding.

Apalagi, beberapa hari ketinggian gelombang mencapai 2,5 meter sehingga ikan-ikan sulit ditemukan. "Selama nelayan tidak melaut waktunya dihabiskan dengan duduk-duduk di dalam kapal sambil memperbaiki alat tangkap," katanya.

Menurut dia, produksi normal pendapatan TPI Binuangen dari retribusi pelelangan ikan Rp 24 juta per bulan. Namun, sekarang turun 50 persen.

Dia menyebutkan berkurangnya produksi ikan di TPI Binuangeun tentu mengakibatkan harga ikan berbagai jenis mengalami kenaikan seperti ikan cumi semula Rp 18 ribu per kilogram menjadi Rp 30 ribu/kg.

Begitu pula ikan tenggiri papan, sebelumnya Rp 38 ribu/kg menjadi Rp 44 ribu/kg, ikan pari dari Rp 9 ribu/kg naik menjadi Rp 11 ribu/kg, dan ikan bawal hitam dari Rp 20 ribu/kg menjadi Rp 24 ribu/kg.

Sebagian besar kapal nelayan TPI Binuangeun, kata dia, rata-rata berkapasitas 3-5 gross ton (GT). "Jika normal tangkapan ikan bisa mencapai 15 ton," ujarnya.

Joni (55), pengelola TPI Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, mengaku selama ini tangkapan ikan masih sepi akibat gelombang besar yang disertai tiupan angin kencang.

Saat ini, nelayan yang melaut hanya sebagian kecil karena sepinya tangkapan ikan tersebut."Kami menarik retribusi dari pelelangan ikan relatif kecil karena sebagai besar nelayan menganggur," ujarnya.

Sementara itu, seorang nelayan TPI Bayah Ode (50) mengaku dirinya selama beberapa bulan tidak melaut karena tidak ada ikan akibat gelombang tinggi di pesisir pantai Kabupaten Lebak.

Selama menganggur, kata dia, pihaknya beruntung mendapat pinjaman utang dari pemolok kapal dengan pembayaran setelah melaut nanti. "Kami sudah biasa jika tangkapan ikan sepi untuk keperluan keluarga mengutang dulu ke pemilik kapal itu," ujarnya.


Sumber :
http://regional.kompas.com/read/2010/06/23/02043996/Produksi.Ikan.Turun.Separuh..
23 juni 2010

Sumber Gambar:
http://blog.galihsatria.com/2008/07/29/jalan-jalan-lebak-banten-pantai-malingping/

Antam Cikotok Diminta Reklamasi TNGHS

PT Aneka Tambang (Antam) Cikotok diminta mereklamasi lokasi eks penambangan emas di Blok Cikidang, kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), Kabupaten Lebak, Banten.Kepala Bidang Kehutanan, Dinas Kehutanan, Kabupaten Lebak, Asep Mauladi, Kamis, mengatakan, hingga saat ini pihak PT Antam belum memberikan laporan rehabilitasi penghijauan atau reklamasi di bekas lokasi penambangan emas.

PT Antam sejak tahun 1990-an melakukan eksplorasi penambangan emas di Blok Cikidang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Saat ini, kondisi peninggalan PT Antam perlu mendapat reklamasi untuk mencegah terjadi kerusakan hutan dan alam.

Bahkan, areal lokasi penambangan emas Blok Cikidang juga masih terdapat warga yang melakukan penggalin emas tanpa izin (PETI).Oleh karena itu, pihaknya berharap PT Antam segera melakukan penghijauan atau rehabilatasi di areal bekas eksplorasi penambangan emas sehingga kawasan TNGHS kondisinya tidak kritis.

Sebab, TNGHS merupakan kawasan hutan konservasi yang dilindungi pemerintah daerah maupun pusat."Jika sudah dilakukan reklamasi diminta PT Antam segera melaporkanya," ujarnya.

Sementara itu, sejumlah pencinta alam di Kabupaten Lebak, mengaku merasa prihatin jika lokasi bekas penambangan emas di Blok Cikidang itu tidak segera dilakukan penghijauan.Sejauh ini sejumlah lokasi kawasan hutan konservasi TNGHS perlu mendapat rehabilitasi penghijauan untuk menyelamatkan dari bencana longsor serta kekeringan.

"Oleh karena itu, kami khawatir lokasi TNGHS berdampak buruk terhadap ekosistem dan mengancam habitat lainya, akibat terjadi kerusakan hutan dan alam itu," kata Bahtiar, pencinta alam dari Perguruan Tinggi Sekolah Islam, La Tansa Mashiro Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. ant/kpo


Sumber :
http://koran.republika.co.id/berita/40146/Antam_Cikotok_Diminta_Reklamasi_TNGHS
26 Maret 2009

Cikotok, Akankah Menjadi Kota Hantu?



Bermula dari audiensi Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB ke PT Antam di Bogor, akhirnya dapat mengunjungi kawasan tambang emas bersejarah Cikotok, Banten Selatan. Tadinya audiensi ke PT Antam adalah untuk bertukar pikiran mengenai agrowisata pascatambang Pongkor, namun kemudian berkembang ke arah edutourism, sustainable tourism, geowisata, dan wisata ex-tambang. Ujung-ujungnya setelah berdiskusi dengan Ir. Agus Yulianto, salah seorang direksi PT Antam lulusan Jurusan Tanah IPB, ia mengusulkan kepada P-P2Par ITB untuk meninjau Cikotok. Jadilah ini kunjungan ketiga ke Cikotok setelah tahun 1984 sewaktu masih mahasiswa Teknik Geologi ITB, dan 1999 sewaktu mengikuti perlatihan sumber daya mineral di Pusdiklat Geologi.

Dua kunjungan terdahulu mempunyai kesan yang tidak dapat dilupakan. Tahun 1984 ketika ekskursi Geologi Ekonomi dengan dosen Ir. Djadjat Sudradjat Madsam (alm), diakhiri dengan serangan diare. Mulanya dalam perjalanan pulang malam dengan bus ITB, Abdul Qodir seorang teman, tiba-tiba meminta sopir bus berhenti. Masih dalam kantuk yang mendera seluruh peserta ekskursi, tadinya merasa kebingungan mengapa bus berhenti di tengah-tengah hutan Leuwiliang Bogor di tengah malam. Saat tahu Abdul Qodir terburu-buru turun dari bus dan segera mencari rumpun semak di pinggir jalan untuk buang hajat besar, semua tertawa riuh.

Saya pun tertawa nikmat sekali melihat kelakuan teman yang satu itu. Saat bus berjalan kembali, belum hilang perasaan lucu itu, ketika tiba-tiba saya merasakan ada yang salah di dalam perut. Rasa melilit segera membelit seluruh perut. Lalu seperti aktivitas magma yang sudah sangat meninggi, eksplosi tidak dapat ditahan lagi. Sama seperti Qodir, saya pun minta bus berhenti. Saat bus berhenti, mengibritlah saya keluar bus dan segera berjongkok di rumpun pinggir jalan. Kini giliran saya ditertawakan Qodir dan seluruh penumpang bus.

Setelah seluruh magma meledak keluar, betapa lega perut ini. Dalam sisa perjalanan, tidur pun cukup nikmat, hingga subuh datang menjelang. Lalu inilah klimaksnya. Saat bus berhenti untuk mengisi BBM, berhamburanlah hampir sebagian besar teman-teman memburu toilet yang hanya satu di SPBU itu. Kepanikan melanda mereka yang harus antre sambil teriak-teriak agar cepat dan menggedor-gedor pintu toilet, sementara yang sudah berada di dalam tidak kalah sengit berteriak bahwa hajatnya belum selesai. Rupanya aktivitas magma mereka baru terasa bersamaan di SPBU ini. Nah, kini giliran saya dan Abdul Qodir yang tertawa terkekeh-kekeh melihat kelakuan teman-teman yang tadi malam menertawakan kami.

Setelah dipikir-pikir akhirnya kecurigaan penyebab serangan diare yang melanda hampir semua mahasiswa dipastikan dari menu sayur buncis sebagai hidangan makan malam yang memang sebenarnya sudah terasa masam basi. Dasar mahasiswa, masakan sudah rada basi pun dihajar pula, dan… begitulah akibatnya.

Kunjungan kedua ke Cikotok adalah saat ekskursi pelatihan sumber daya mineral yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Geologi tahun 1999. Berbeda dengan pengalaman semasa mahasiswa yang lucu, kunjungan kedua kali ini sangat tragis. Seorang peserta pelatihan dari Lemigas mendapat serangan jantung. Beberapa hari kemudian setelah kembali di Bandung, saya mendapat kabar bahwa bapak yang mendapat serangan jantung itu akhirnya meninggal dunia. Sangat mengejutkan karena selama pelatihan berlangsung justru bapak itulah yang paling aktif dan banyak bercanda membawa suasana riang di tengah-tengah kesuntukan pelatihan.

Kini, kali yang ketiga ke Cikotok, situasinya sangat jauh berbeda. Kali ini datang berkunjung atas undangan PT Antam untuk suatu penjajagan pengembangan wisata pasca-tambang. Berangkatlah saya ditemani staf dari P-P2Par, Ina H. Koswara dan Ervi Virna Nursanti di awal Maret 2010 ketika BMKG mengumumkan kewaspadaan adanya cuaca ekstrim di Pulau Jawa. Tetapi perjalanan dari Bandung ke Palabuhanratu dan diteruskan ke Bayah, justru dinaungi matahari yang bersinar cerah sepanjang hari. Saat berdiri di atas jembatan Ci Bareno – batas geografis pemisah provinsi Jawa Barat dan Banten – matahari tepat bersinar terik di atas ubun-ubun. Perjalanan melintasi pegunungan Bayah pun ditempuh dengan lancar di atas jalan aspal yang mulus, sekalipun turun naik dalam kelokan-kelokan tajam.

Secara geologis, daerah ini telah lama dikenal berada pada zona fisiografis Kubah Bayah. Kondisi struktur geologinya kompleks, campur aduk antara perlipatan, penyesaran, pengangkatan, terobosan-terobosan batuan beku, dan endapan-endapan gunung api tua. Umurnya terentang dari Eosen hingga Pliosen. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya menyusun peta geologi daerah ini dalam relief topografi yang sangat kasar, dengan medan turun naik dan lereng-lereng terjal. Sujatmiko dan S. Santosa telah memetakannya dalam skala 1:100.000 dan dipublikasikan pada tahun 1992.

Formasi batuan tertua berumur Eosen disebut sebagai Formasi Bayah yang diendapkan pada lingkungan transisi daratan/sungai ke delta dan laut dangkal. Formasi ini tersebar di sekitar Kota Bayah yang pada kunjungan sekarang berkembang menjadi kota yang ramai. Lokasi wisata Karangtaraje dan Pulau Manuk berupa tanjung dan pantai terjal berbatu merupakan ekspresi permukaan formasi ini. Ke arah barat dari Bayah, formasi ini tersebar hingga Ci Hara, sungai yang membawa bongkah-bongkah batu granit dan granodiorit.

Di Cikotok sendiri, urat-urat emas berada pada endapan gunung api tua Formasi Cikotok yang dulu dikenal sebagai Formasi Andesit Tua. Formasi ini terkenal karena sebarannya yang luas dan menempati wilayah-wilayah di selatan Pulau Jawa. Formasi inilah yang diperkirakan pada Kala Oligosen Akhir hingga Miosen Awal sekitar 30 – 23 juta tahun yang lalu, merupakan inti Pulau Jawa purba. Deretan pusat-pusat gunung api atau dikenal sebagai busur magmatik berada pada jalur di selatan Pulau Jawa purba. Tentu saja, bagian tengah hingga utara Pulau Jawa sekarang yang ditempati gunung-gunung api Kuarter dan padat oleh perkotaan, dulunya masih berupa laut.

Pergerakan tektonik sejak 30 juta tahun yang lalu hingga sekarang telah menggeser busur-busur itu. Proses evolutif itu menjadikan bagian selatan terangkat naik, kemudian tererosi, dan memunculkan lanskap yang luar biasa. Pegunungan terjal, perbukitan karst dan lipatan, jalan turun naik yang berliku-liku, pantai-pantai yang indah, serta potensi-potensi sumber daya mineralnya, memberi berkah bagi Banten Selatan. Alam telah berproses jutaan tahun untuk kita ambil manfaatnya, tetapi harus kita kelola secara bijak. Inilah bagian yang paling sulit.

Cikotok sendiri telah dikenal sebagai kawasan tambang emas sejak lama. Daerah ini telah dikembangkan oleh Belanda sedikitnya sejak tahun 1936. Sebelumnya, penelitian geologis telah dilakukan sejak 1924 hingga 1930 oleh Ir. W.F. Oppenoorth yang dilanjutkan dengan pekerjaan eksplorasi dan pemetaan hingga 1936. Pada tahun inilah perusahaan Belanda N.V. Mijnbauw Maatschapij Zuid Bantam (MMZB) mulai membangun tambang emas hingga 1939 ketika terpaksa terhenti sampai 1942 akibat terjadinya Perang Dunia II.

Selama pendudukan Jepang 1942 – 1945, kegiatan tambang dikerjakan oleh perusahaan Jepang Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha tetapi tidak menambang emas melainkan timah hitam timbal (Pb) di Cirotan. Penambnagan timbal dilakukan Jepang untuk keperluan produksi amunisi.

Setelah Indonesia merdeka 1945, praktis penambangan tidak berlanjut hingga 1948, ketika Belanda datang kembali menguasai Indonesia. NV MMZB kembali masuk ke Cikotok tetapi kemudian tidak melanjutkan usahanya karena kondisi tambang yang sangat parah sejak ditinggalkan Jepang.

Di bawah pemerintahan Soekarno, akhirnya tambang emas Cikotok diresmikan pada 12 Juli 1958 dengan pengusahaan dikerjakan oleh NV Tambang Emas Tjikotok (TMT) yang berada di bawah manajemen NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (P3). Setelah beberapa kali berganti induk perusahaan, pada tanggal 5 Juli 1968 tambang emas Cikotok dikelola oleh PN Aneka Tambang (BUMN) yang lalu berubah menjadi PT Aneka Tambang sejak 1974 dan sekarang kemudian dikenal sebagai PT Antam.

Setelah mendulang ribuan ton emas dan perak dari perut bumi Cikotok, Cirotan, dan Cikidang, akhirnya cadangannya habis juga. Saat sekarang yang tersisa adalah urat-urat kecil dengan kadar emas yang hanya menguntungkan secara ekonomis untuk para gurandil, sebutan miris bagi para penambang rakyat. Mereka bertaruh dengan nyawanya untuk membuat lubang-lubang seukuran tubuhnya sendiri masuk sedalam 50 hingga 100 m ke dalam tanah untuk mendapatkan satu atau dua gram emas per hari.

Tahun 2005 sisa-sisa cadangan logam mulia telah menunjukkan batas-batas terakhirnya. Sejak tahun itu pula produksi penambangan emas semakin terus menurun hingga akhirnya satu per satu lubang-lubang tambang ditutup. Contohnya, pintu lubang tambang horisontal Cirotan diblok dengan beton. Kini bekas tambang itu menjadi bagian dari kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Halimun – Salak.

Bagian yang tersisa adalah beberapa fasilitas tambang yang masih berada di Cikotok. Di antaranya yang sangat bersejarah adalah derek vertikal untuk menaik-turunkan pekerja tambang atau bebatuan sedalam 100 m, serta bangunan pabrik pengolahan di Pasir Gombong yang tampak seperti puing-puing yang merana. Keduanya adalah bangunan tambang pertama kali dibuat oleh Belanda pada 1936 dan sekarang dilindungi oleh Balai Kepurbakalaan sebagai artefak benda cagar budaya. Kawasan tambang emas yang telah dikenal dalam buku-buku Ilmu Bumi sejak saya duduk di sekolah dasar pada tahun 1970-an itu akhirnya akan ditutup total pada 2011.

Bagaimana masa depan kawasan tambang emas Cikotok dengan segala fasilitasnya setelah ditinggalkan PT Antam? Akankah berubah menjadi ‘kota hantu’? Begitulah istilah yang biasa diterapkan pada kota-kota tambang yang ditinggalkan, setelah cadangan mineralnya habis tergali.


Sumber:
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=468
21 Maret 2010

Sumber Gambar:
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=468
http://tiyangdusun.wordpress.com/2009/04/20/sisi-lain-gn-halimun/

Tambang Emas Cikotok (Cibeber) Ditutup Tahun 2011

Tambang emas di Cikotok. Kecamatan Cibeber. Kabupaten Lebak. Provinsi Banten, yang beroperasi sejak tahun 1936, akan ditutup pada tahun 2011.
"Saal ini di tambang emas Cikotok sudah tidak ada eksploitasi lagi, paling hanya gurandil." kata Kepala Bidang Pertambangan dan Geologi Dinas Pertambangan dan Energi (Dislamben) Provinsi Banten Eko Palmadi dj Serang. Jumat (18/12).

Ditutupnya tambang emas satu-satunya di Provinsi Banten tersebut, selain masa izin PT Aneka Tambang (Antam) yang sudah habis, juga cadangan emas di Cikotok sudah sangat sulit ditemukan.Saat ini. kata Eko. meski izin penambangan PT Antam sudah habis, namun PT Antam harus tetap menjalankan kewajibannya, yakni mengembalikan kondisi Cikotok seperti semula."PT Antam harus mengembalikan seperti semula, selain memberikan kompensasi kepada masyarakat sekitar tambang." kata Eko.

Oleh karena itu. lanjut Eko. mesti izin penambangan PT Antam saat ini sudah habis, namun PT antam harus tetap berada di lokasi penambangan untuk menjalankan kewajibannya. "Kalau tidak menjalankan kewajibannya, maka PT Antam akan di black List, tapi hal itu jauh dari kemungkinan, karena PT Antam perusahaan profesional." terangnya.

Eko juga menjelaskan, sebenarnya di sekitar lokasi penambangan juga banyak lahan yang berpotensi menghasilkan emas, seperti Gunung Halimun. Namun, karena lahan yang memilik potensi tersebut adalah wilayah yang masuk dalam kawasan Taman Nasional, maka PT Antam tidak berani melakukan eksplorasi di kawasan tersebut.

Sementara itu. setelah habis masa kontraknya dengan Pemkab Lebak, rencananya asset yang dimiliki PT Antam di Cikotok. akan diserahkan ke Pemkab Lebak. Perusahaan peninggalan zaman Belanda ini sejak tahun 1936. dan sempat diambil alih Jepang pada tahun 1942. telah memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).(ck-202)


Sumber :
Pelita, dalam :
http://bataviase.co.id/detailberita-10420045.html
19 Desember 2009

Pro dan Kontra Rencana Pembentukan Kabupaten Cilangkahan

Bupati Lebak H Mulyadi Jayabaya (tengah) didampingi Wakil Bupati Amir Hamzah (kanan) dan salah satu anggota Komisi I DPRD Banten (kiri) menjelaskan dasar dan alasan belum dikeluarkannya rekomendasi pembentukan Kabupaten Cilangkahan, pada saat rapat dengan Komisi I DPRD Banten belum lama ini. Bupati Lebak berjanji akan mengeluarkan rekomendasi kalau sudah ada hasil kajian dari pemerintah pusat.

Rencana pembentukan Kabupaten Cilangkahan, pemekaran dari Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga saat ini masih berkutat antara pendapat pro dan kontra. Fakta pro dan kontra ini bukan terjadi di tengah masyarakat, tetapi justru terjadi di kalangan elit daerah. Masyarakat Lebak Selatan sudah satu kata dan sepakat agar pembentukan Kabupaten Cilangkahan segera terwujud. Namun, di tingkat elite daerah dalam hal ini Bupati Lebak H Mulyadi Jayabaya hingga saat ini belum berani memberikan rekomendasi pembentukan Kabupaten Cilangkahan.

Keengganan Bupati Jayabaya untuk memberikan rekomendasi secara implisit dimaknai sebagai sikap penolakan terhadap rencana pembentukan kabupaten tersebut. Alasannya, karena infrastruktur dan kondisi keuangan daerah sangat tidak memungkinkan untuk pemekaran kabupaten baru. Di hadapan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten belum lama ini Bupati Jayabaya menegaskan, pihaknya sama sekali tidak menghambat apalagi menghalangi rencana pembentukan Kabupaten Cilangkahan.
Menurut Jayabaya berdasarkan hasil kajian Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada tahun 2006, syarat administratif pembentukan Kabupaten Cilangkahan tidak terpenuhi karena terdapat dua kecamatan di wilayah Cilangkahan itu belum berusia lima tahun.

“Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, khususnya pada Pasal 4 Ayat 4 dikatakan bahwa usia pemerintahan kecamatan dalam sebuah daerah pemekaran paling kurang lima tahun. Namun, dalam faktanya, sebanyak dua kecamatan di wilayah Lebak Selatan, yakni Kecamatan Cigemblong dan Cihara belum berusia lima tahun. Ini merupakan salah satu persyaratan yang tidak terpenuhi,” katanya.

Lebih lanjut, Jayabaya mengutip pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah disampaikan di hadapan para bupati dan wali kota seluruh Indonesia, di Madiun, 19 Januari 2010 lalu, bahwa para bupati dan wali kota agar tidak mudah memberikan rekomendasi pemekaran suatu wilayah hanya karena tuntutan sekelompok kecil elit politik tanpa memperhatikan kemampuan keuangan negara dan daerah.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Banten Makmun Muzaki menegaskan, seharusnya Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya tetap memberikan rekomendasi tanpa perlu menunggu hasil kajian pemerintah pusat. Menurut Makmun, seluruh kajian sudah dilakukan, sehingga tidak perlu menunggu hasil kajian pemerintah pusat.


Pansus Cilangkahan

Dikatakan, langkah perjuangan pembentukan Kabupaten Cilangkahan itu kini sudah berada di tangan DPRD Banten. Saat ini DPRD Banten tengah membahas kemungkinan dibentuknya panitia khusus (Pansus) Cilangkahan di DPRD Banten untuk percepatan pembentukan kabupaten itu. Gagasan pembentukan Pansus DPRD Banten ini pun menuai reaksi pro dan kontra antara Badan Koordinasi Pembentukan Kabupaten Cilangkahan (Bakor PKC) dan Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten Cilangkahan (P2KC).

Bakor PKC menyatakan siap mengawal proses Pansus Cilangkahan yang dibentuk DPRD Banten. “Bagi kami tidak masalah DPRD Banten membentuk Pansus Cilangkahan, karena untuk kepentingan memenuhi aturan undang-undang dalam hal anggaran,” ujar Sekretaris Bakor PKC Ahmad Hakiki Hakim.

Sedangkan, Ketua Tim P2KC Sumawijaya justru berpandangan lain. Ia dengan tegas menolak pembentukan Pansus Cilangkahan di DPRD Banten dengan tiga alasan antara lain, kajian pemekaran Kabupaten Cilangkahan itu sudah ada, sejumlah fraksi dari DPRD Banten juga telah memberikan rekomendasi dukungan dan DPRD Kabupaten Lebak juga telah mengeluarkan rekomendasi yang sama.

Sumawijaya menegaskan, tim dari Ditjen Otda Kemendagri sudah turun ke lapangan untuk melakukan uji petik juga menilai Kabupaten Cilangkahan sudah layak untuk menjadi daerah otonomi sendiri dan Cilangkahan sangat layak dibentuk menjadi kabupaten.
Sementara itu, Ketua DPRD Banten H Aeng Haerudin mengatakan, pembentukan Pansus Cilangkahan bukan berarti DPRD Banten menunda pemberian dukungan terhadap Cilangkahan. Menurutnya, pembentukan pansus merupakan bentuk pertanggungjawaban DPRD terhadap keputusan yang akan diambil untuk pemberian dukungan pembentukan Kabupaten Cilangkahan.

Untuk diketahui, Kabupaten Lebak merupakan kabupaten terluas di Pulau Jawa, dengan luas wilayah 304.472 hektare (ha) atau 2.044,72 km2. Kabupaten Lebak yang terletak antara 6º18’-7º00’ Lintang Selatan dan 105º25’-106º30’ Bujur Timur, terdiri dari 28 Kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan. Kabupaten Lebak memiliki batas wilayah administratif antara lain sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Tangerang. Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pandeglang dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.

Jumlah penduduk di Kabupaten Lebak sebanyak 1,1 juta lebih jiwa dengan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, nelayan, buruh nelayan dan sebagian kecil pedagang.

Pada awalnya, nama kabupaten yang akan dimekarkan dari Kabupaten Lebak itu adalah Kabupaten Banten Selatan. Namun, kemudian diubah menjadi Kabupaten Cilangkahan yang rencananya terdiri atas 10 kecamatan yakni Kecamatan Banjarsari, Cigembolong, Cijaku, Malingping, Wanasalam, Cihara, Panggarangan, Bayah, Cilograng dan Kecamatan Cibeber. [SP/Laurens Dami]


Sumber :
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=21091
17 Juli 2010

Abah Mendukung Pemekaran Cilangkahan

Wilayah Cilangkahan, di kabupaten lebak usulkan dimekarkan. Dukungan rencana pemekaran daerah Cilangkahan menjadi kabupaten terus mengalir, salah satunya datang dari Prof.DR. KH Hasan Sohib. Atas nama dewan harian daerah, badan penggerak pembudayaan jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan ‘45 (BHD 45) Provinsi Banten. Apabila Cilangkahan permohonan ini diijinkan oleh Mendagri kabupaten Cilangkahan akan menjadi daerah provinsi Banten ke 9 .Dukungan terbuka ini digelar oleh Abah, sapaan akrab Hasan Sochib dengan para tokoh penggagas pembentukan kabupaten Cilangkahan, Badan Koordinasi Pembentukan Cilangkahan ( Bakor PKC , tokoh masyarakat, dan politisi dari lebak Selatan di Villa Tembong Jaya, kecamatan
Cipocok Jaya,kota Serang (26/05)

” Pemisahan diri ini bukan untuk pendzoliman, akan tetapi demi kemaslahatan umat,”kata abah yang saat ini menjabat sebagai ketua umum BHD 45 provinsi Banten. Abah berupaya agar masyarakat Lebak Selatan

Abah mengungkapkan, BHD ‘45 telah melayangkan surat kepada Mendagri, Gubernur Banten , DPRD Banten dan Bupati Lebak agar mewujudkan harapan masyarakat Lebak Selatan untuk melahirkan kabupaten Cilangkahan.

“Ini sebagai upaya agar masyarakat Lebak Selatan lebih meningkat kesejahteraannya,”ujarnya. Beberapa laporan yang diterima dari masyarakat Malimping diantaranya sangat mengeluhkan dengan pelayaan yang tidak di rasakan oleh masyarakat dari Pemerintah kabupaten Lebak.

Dalam kesempatan Ini Ketua Tim Percepatan Pemekaran Kabipaten Cilangkahan, Sukmawijaya mengungkapkan, pemekaran wilayah kabupaten Cilangkahan bukan karena muatan politis. Aakan tetapi hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh antara ibukota kabupaten Lebak dengan kecamatan di daerah Lebak Selatan, yakni kecamatan Cilangkahan mencapai 170 km.

“Berdasarkan kajian jarak kecamatan dengan ibu kota paling jauh adalah 35 km dan jarak ideal adalah 15 km,”kata Sukma yang juga menjabat sebagai ketua Satuan Polisi Pamong Praja ( Satpol PP) Provinsi Banten.

Laporan yang tersalin dari BHD ’45 tertuju ke mendagri menyebutkan, pengusaha konstrusksi yang tergabung dalam Kadin Provinsi Banten mengeluhkan pelaksanaan proyek pembangunan merasa tidak pernah dilibatkan. Bupati Jaya Baya yang sekaligus menjabat sebagai pengusaha konstruksi telah melemahkan usaha sektor konstruksi di kabupaten Lebak. Pengadaan dan pembangunan di kabupaten Lebak jarang sekali memperhatikan keberadaan perusahaan konstruksi lain. Beberapa proyek selalu dimenangkan oleh usaha kontraktor milik Mulyadi Jayabaya, padahal posisi Mulyadi Jayabaya adalah seorang kepala daerah. @team.


Sumber :
http://www.koranbanten.com/2010/05/27/abah-mendukung-pemekaran-cilangkahan/
27 Mei 2010

Layak Menjadi Layak Menjadi Sebuah Kabupaten - Sebuah Kabupaten Depdagri Turun ke Cilangkahan

Sebanyak 10 anggota dari tim Direktorat Jendaral Penataan Daerah dan Otonomi Khusus Departemen Dalam Negeri (Depdagri) RI, melakukan uji petik atau turun ke wilayah Cilangkahan, Kabupaten Lebak, Banten, sebagai calon daerah otonomi baru di Benten.

Dalam hasil sementara, tim Depdagri menyatakan wilayah Cilangkahan yang sebelumnya berada di wilayah Kabupaten Lebak, dipandang sangat layak menjadi sebuah daerah otonomi baru (kabupaten).

Romobongan Tim Depdagri RI tersebut datanga ke Cilangkahan dipimpin Ny. Siti Jaroh disambut di Villa Suma, Kecamatan Bayah, oleh Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten Cilangkahan.

Dalam kesempatan itu, digelar pertemuan antara Sekretaris Direktur Penataan Daerah Otonomi dan Otonomi Khusus, Ny Siti Jaroh, dengan Ketua dan Sekretaris Tim Percepatan Kabupaten Cilangkahan, Drs Sumawijaya, dan Hakiki Hakim.

Pertemuan tersebut juga dihadiri para tokoh percepatan pemekaran Kabupaten Cilangkahan, yang berasal dari 10 perwakilan kecamatan, dan sejumlah kepala desa.

“Melihat fisik di lapangan, Cilangkahan sudah layak menjadi sebuah kabupaten, karena kaya potensi, dan memenuhi syarat. 17 syarat sudah dipenuhi, tinggal syarat lainnya yang merupakan bagian dari administrasi, seperti data fisik kewilayahan, keputusan bupati, keputusan DPRD Banten, dan Keputusan Gubernur,” kata Siti dalam Pertemuan tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Tim Percepatan Kabupaten Cilangkahan, Hakiki Hakim menyatakan selama ini tim masih terus bekerja dan menyusun syarat lain baik administrasi dan syarat data kewilayahan.

Namun, syarat-syarat tersebut dalam waktu dekat akan selesai.“Kami atas nama tim percepatan, didukung dari tim Depdagri meyakini kabupaten Cilangkahan tidak lama lagi akan segera terwujud,” kata Hakiki.

Dalam kunjungan ke Cilangkahan, tim Depdagri berkunjung ke Cikotok dan Cikidang Kecamatan Cibeber untuk melihat potensi Tambang emas, kemudian melihat wisata pantai Sawarna, dan tempat pelelangan ikan di Bayah.

Dalam kunjungan itu, Direktur Penataan Daerah dan Otonomi Khusus, Soni Sumarsono bertemu dengan Tim Percepatan, Dewan Pengurus Badan Koordinasi Pembentukan Kabupaten Cilangkahan (BAKOR PKC ), Pengurus Wilayah di 10 Kecamatan, Kepala Desa, dan tokoh masyarakat.

“Dari kondisi fisik di lapangan, dan potensi daerah, menyatakan Cilangkahan yang terdiri 10 kecamatan sangat layak dipekarkan menjadi Kabupaten. Tinggal dilengkapi syarat administrative nya, dan tidak mesti harus ada Keputusan Bupati Induk dulu. Setelah itu, penuhi syarat lain, Keputusan DPRD Propinsi dan Gubernur. Namun, tetap pada akhirnya Keputusan Bupati juga harus ada” kata Soni.

Sementara itu, tim Percepatan yang didukung penuh oleh BAKOR PKC, masyarakat Lebak Selatan optimis semua syarat administtratif segera terpenuhi.

“Saat tim khusus percepatan terus melaksanakan konsolidasi dengan DPRD Propinsi, Gubernur Banten, DPD RI, Depdagri, dan DPR RI. Tugas lainnya, tim khusus sedang menyusun dan mengumpulkan data-data teknis dan syrat fisik kewilayahan” tegas ketua tim percepatan, Sumawijaya.

Seusai pertemuan, tim Depdagri diketuai Ny. Siti Jaroh melanjutkan kunjungan melihat potensi perikanan.

Rombongan Depdagri didampingi Bakor PKC, mendatangi wilayah Ke camatan Wanasalam, yakni ke lokasi ke lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Binuangeun. Kunjungan ke Kecamatan Malingping, tim Depdagri juga memantau lokasi Pantai Bagedur dan Lokasi rencana lahan perkantoran seluas 200 hektar. (yus)


Sumber :
http://www.satunews.com/read/8583/2010/05/03/-depdagri-turun-ke-cilangkahan-html
3 Mei 2010

Pembentukan Cilangkahan Bukan Kepentingan Elit

Harapan masyarakat Lebak Selatan (Baksel) memisahkan diri dari Kabupaten Lebak hanya tinggal menunggu waktu.

Demikian disampaikan tokoh masyarakat sekaligus Ketua Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten Cilangkahan Sumawijaya, Sabtu (10/7). “Minggu ini DPRD Banten memparipurnakan persetujuan pembentukan Cilangkahan, sementara Pemprov sudah setuju. Jadi, tinggal persetujuan Bupati Mulyadi Jayabaya,” katanya.

Ia juga membantah pernyataan Bupati Mulyadi Jayabaya yang mengatakan pembentukan kabupaten baru tersebut hanya kepentingan elit politik. “Kami tegaskan, pembentukan Kabupaten Cilangkahan bukan kepentingan elit politik Lebak Selatan. Tapi murni aspirasi masyarakat yang ingin akses pelayanan publik mudah dan terjangkau,” tuturnya.

Katanya, berbagai persyaratan administrasi telah dipenuhi. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi Bupati Mulyadi Jayabaya tidak memberikan rekomendasi pembentukan Kabupaten Cilangkahan. Karena, katanya, sekira 35% wilayah Banten berada di Lebak dan sebanyak 52,70% warga Lebak berada di bawah garis kemiskinan. Ini, katanya jadi referensi bagi pemerintah menyikapi aspirasi dari masyarakat Lebak Selatan. “Kami yakin, sebagian besar masyarakat berharap agar Cilangkahan segera terbentuk. Karena, sejatinya mereka mengharapkan kemajuan dan kesejahteraan,” kata Sumawijaya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Tim Percepatan Pembentukan Kabupaten Cilangkahan Ahmad Hakiki Hakim. Menurutnya, DPRD Banten dinilai lebih progresif dalam menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah segera memberikan rekomendasi pembentukan Cilangkahan. “Kami ingin Pemkab Lebak tanggap terhadap keinginan masyarakat ini,” kata Kiki. (mg-05/del)


Sumber :
http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=56860
12 Juli 2010